Pengertian Disaster Recovery serta Langkah, Jenis, dan Manfaatnya Bagi Perusahaan Anda

By 15 July, 2022

Disaster recovery adalah langkah pencegahan dari bencana yang harus diambil perusahaan. Mengapa? Cari tahu alasannya di artikel Cloudmatika ini.

Anda tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi dalam hari, minggu, bulan, dan tahun mendatang. Itu sebabnya Anda memerlukan disaster recovery sebagai langkah pencegahan yang efektif untuk dilakukan. 

Disaster recovery adalah suatu konsep yang dibuat untuk menghadapi kemungkinan terburuk pada masa mendatang. Disaster recovery atau pemulihan bencana yang dibicarakan di sini melibatkan berbagai software, perangkat IT, hingga aplikasi supaya informasi penting yang dimiliki perusahaan tidak hilang begitu saja. 

Jika Anda baru dalam hal ini, coba perhatikan informasi berikut dengan saksama. 
 

Apa itu Disaster Recovery?

Disaster recovery merupakan suatu konsep untuk mengamankan semua sistem, aplikasi, dan perangkat IT dari bencana yang akan datang. Bencana yang dimaksudkan bisa apa saja. Mulai dari serangan cyber, krisis ekonomi, atau bahkan pandemi seperti COVID-19. 

Intinya, disaster recovery dilakukan sebagai langkah pencegahan atas kejadian pada masa depan yang tidak bisa diprediksi.

Baca Juga: Pentingnya Disaster Recovery Untuk Bisnis Anda 

Jika nantinya terjadi sesuatu kejadian yang merusak sistem atau data maka perusahaan tidak perlu khawatir. Sudah ada data dan sistem cadangan yang bisa diakses agar aktivitas operasional perusahaan dapat kembali berjalan normal dalam waktu cepat. 
 

Bagaimana Cara Disaster Recovery Bekerja?

Secara sederhana, disaster recovery dilakukan dengan membuat cadangan data dan sistem di tempat yang berbeda dari data center utama. Jadi ketika bencana merusak data center utama, maka perusahaan tidak akan mengalami kerugian yang besar karena masih bisa beroperasi. 

Untuk pengertian yang lebih menyeluruh, mari pahami cara kerja disaster recovery yang terbagi menjadi beberapa langkah berikut. 
 

1. Duplikasi Data

Duplikasi dilakukan agar data penting yang dibutuhkan perusahaan tidak hanya berada di satu tempat. Ketika terjadi sesuatu yang merusak salah satu data center maka masih ada data aman yang tersimpan di tempat lain. 

Semua data yang ada di primary site (data center utama) akan diduplikasi dan disimpan di secondary site (data center cadangan). Tempat penyimpanan data ini bisa dilakukan dengan dua cara yaitu secara virtual (cloud) dan realitas (memiliki tempat fisik). 

Baca Juga: Kenali 4 Cara Membackup Data Dengan Benar Agar Data Anda Aman


Setiap perusahaan bisa memilih bagaimana mereka ingin melakukan disaster recovery. Semuanya akan bergantung kepada kebutuhan, keadaan, dan sumber daya yang dimiliki masing-masing perusahaan.


2. Secondary Site Diaktifkan

Jika bencana itu benar-benar terjadi dan merusak primary site, maka secondary site akan langsung diaktifkan. Primary site yang terdampak pasti akan membuat operasional terhenti. Namun hal ini hanya berlangsung dalam waktu singkat. 

Secondary site akan langsung aktif agar operasional perusahaan dapat kembali berjalan. Meskipun masih tidak stabil, tetapi setidaknya aktivitas yang harus berjalan sudah bisa dilakukan sebagaimana mestinya. 
 

3. Membangun Ulang Primary Site

Ketika secondary site mulai diaktifkan maka primary site juga akan kembali dibangun. Primary site akan kembali dibangun dengan infrastruktur yang baru. 

Hal ini dilakukan supaya primary site dapat digunakan kembali saat bencana selesai. Nantinya data yang disimpan oleh karyawan di secondary site selama bencana akan disalin ulang ke primary site agar tidak ada aktivitas kerja yang berubah. 
 

4. Pergantian Operasional dari Secondary ke Primary Site

Saat primary site selesai dibangun maka aktivitas perusahaan bisa kembali dialihkan ke tempat asalnya. Sebelum akhirnya bisa digunakan, Anda perlu memastikan bahwa seluruh aktivitas yang menggunakan data dari secondary site terhenti sejenak. Lalu proses pengalihan seluruh operasional perusahaan dari secondary site ke primary site bisa dilaksanakan. 
 

Bagaimana Cara Membuat Disaster Recovery Plan? 

Jika disaster recovery adalah konsep atau idenya, maka disaster recovery plan merupakan rencana untuk menindaklanjuti ide tersebut. Perencanaan dilakukan supaya perusahaan tidak bangkrut atau hancur ketika bencana datang. 

Disaster recovery plan berguna memberitahukan perusahaan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat operasional kembali berjalan normal. 

Aspek apa saja yang harus ada dalam disaster recovery plan? Semua hal yang Anda anggap penting untuk berjalannya perusahaan harus ada dalam disaster recovery plan. Beberapa hal penting di antaranya dapat Anda lihat berikut ini:

  • Active directory / Domain controller
  • Databases (SQL/Oracle/MariaDB)
  • File servers (contohnya seperti SharePoint)
  • Enterprise Resource Planning (ERP)
  • Industry-specific software (Accounting, MES, dan lain-lain)
  • Virtual desktop environment

Selain menentukan hal-hal penting yang harus ada, Anda perlu mengetahui RPO dan RTO. RPO atau Recovery Point Objective merupakan tujuan atau goal dari rencana pemulihan yang dibuat. 

Contohnya seperti data apa saja yang harus dipulihkan dalam waktu cepat atau aktivitas operasional seperti apa yang menjadi fokus selama berlangsungnya bencana. Di sisi lain, RTO atau Recovery Time Objective berbicara tentang target waktu yang ingin dicapai. 

Jadi ketika suatu bencana terjadi, perusahaan sudah menetapkan waktu yang jelas mengenai masa berhenti dan dimulainya aktivitas pekerjaan. Semua aspek penting tersebut bisa Anda temukan di layanan Disaster Recovery Cloudmatika. 

Disaster Recovery Cloudmatika memberikan Anda layanan paling lengkap dengan teknologi canggih Acronis. Anda tidak perlu takut akan kerugian besar ketika terjadi downtime karena proses pemulihan data yang dilakukan sangat cepat, bahkan hanya dalam hitungan menit. 

Seluruh aktivitas operasional perusahaan seperti proses daftar pesanan, pengiriman, dan merespons pelanggan langsung dapat berjalan dengan penggunaan Disaster Recovery Cloudmatika. 
 

Apa Saja Jenis-Jenis Disaster Recovery Plan?

Jenis disaster recovery plan terbagi menjadi empat yaitu virtualized, network, cloud, dan data center. Berikut masing-masing penjelasannya. 
 

1. Virtualized 

Virtualized disaster recovery plan membantu Anda memvisualisasikan dengan lebih baik. Anda bisa mendapatkan pengertian yang lebih menyeluruh mengenai rencana tersebut. Sistem pengujian juga akan jauh lebih mudah dan sederhana. 

Namun Anda harus memastikan bahwa rencana yang dibuat secara virtual benar-benar bisa direalisasikan di dunia nyata. Pastikan Anda sudah menentukan tujuan yang jelas terkait RPO dan RTO. 
 

2. Network 

Network disaster recovery plan umumnya jarang dipilih karena harus melewati proses yang rumit. Makin besar data yang tersimpan maka pelaksanaannya akan makin sulit. 

Tetapi yang paling penting ialah kemampuan perusahaan untuk melakukannya. Perusahaan harus memastikan bahwa mereka memiliki sumber daya yang cukup, baik secara materi maupun tenaga kerja. 
 

3. Cloud

Cloud disaster recovery plan digunakan untuk melakukan penyimpanan “di awan” dan bukan di tempat fisik. Penggunaan jenis rencana ini sebenarnya membawa banyak dampak positif. Seperti halnya efektivitas penggunaan tempat, waktu, dan biaya.

Baca Juga: Disaster Recovery Berbasis Cloud Terbaik Di Indonesia

Namun Anda perlu memikirkan dan memperhitungkan baik-baik agar penyimpanan data tidak bisa dicuri hacker. Perlu ada sistem keamanan yang kuat dan berlapis-lapis agar semua data perusahaan yang tersimpan tetap aman. Anda perlu memilih penyedia layanan cloud yang sudah tepercaya serta terbukti keamanannya dari waktu ke waktu. 
 

4. Data Center

Seperti namanya, data center disaster recovery plan menetapkan penyimpanan data pada suatu lokasi fisik. Penggunaan rencana ini sebenarnya memberikan kecepatan waktu dalam pemulihan karena data bisa diakses seketika data center cadangan diaktifkan. 

Baca Juga: Pemilihan Data Center di Indonesia Untuk Bisnis Anda

Namun Anda perlu melakukan penilaian risiko operasional seperti lokasi, kemampuan sumber daya yang dimiliki, dan keamanannya. 

Kini Anda sudah lebih mengerti bahwa menyiapkan disaster recovery adalah langkah pencegahan yang tepat sebelum bencana terjadi. Jenis disaster recovery plan mana yang Anda pilih? Jika masih bingung, Anda dapat memilih disaster recovery yang disediakan oleh Cloudmatika. 

Cloudmatika menggunakan teknologi Acronis yang dapat memulihkan data perusahaan Anda dengan cepat. Apa pun format data yang Anda punya hal ini tidak menjadi masalah. Format data yang didukung oleh Cloudmatika berupa Windows, Linux, Bare Metal, Physical Server, Work Station, Applications, Database (SQL Server), Virtualization, dan Any Hypervisor.

Anda tidak perlu takut kehilangan data yang tersimpan di Data Center Cloudmatika karena sudah terbukti aman. Perlindungan data yang disediakan Cloudmatika bahkan sudah mendapat pengakuan internasional dalam standardisasi ISO27001. 

Bagaimana? Layanan Disaster Recovery Cloudmatika sangat aman, lengkap, dan tepercaya, bukan? Jangan tunda lagi untuk memasang keamanan dan sistem pemulihan bencana agar data perusahaan terjaga dengan aman. Membutuhkan konsultasi lebih lanjut? Langsung saja hubungi tim Cloudmatika sekarang juga!