21 Nov

Apa itu Secure Shell (SSH)?

Secure Shell (SSH) adalah sebuah protokol jaringan kriptografi untuk komunikasi data yang aman dan diberikan akses untuk melakukan perintah dari jarak jauh (remote) antara dua jaringan komputer.
Setiap server yang dibuat pada Virtual Private Server (VPS) dan Virtual Data Center (VDC) yang menggunakan Sistem Operasi Linux serta memiliki IP Publik, sudah terdapat fitur SSH secara otomatis. SSH ini berfungsi untuk mengakses ke dalam server dari perangkat apa saja yang mendukung penggunaan SSH ini.

Secure Shell (SSH) dirancang sebagai pengganti Telnet dan Protokol Remote Shell lainnya yang tidak aman seperti RSH Berkeley dan Protokol REXEC, yang mengirim informasi, terutama kata sandi dalam bentuk teks, yang menyebabkan rentan terhadap intersepsi dan menggunakan penganalisa paket. Enkripsi yang digunakan oleh SSH bertujuan untuk memberikan kerahasiaan dan integritas data melalui jaringan yang tidak aman, seperti Internet.

Penggunaan SSH

  • Sebagai kombinasi SFTP (Secure File Transfer Protocol), yakni alternatif yang aman untuk FTP transfer file
  • RSYNC untuk menyalin dan mentransfer file secara efisien dan aman (hampir sama dengan FTP)
  • Browsing web melalui koneksi proxy yang dienkripsi dengan Client SSH yang mendukung protokol SOCKS
  • Melakukan remote monitoring dan pengelolaan server melalui satu atau lebih dari mekanisme

SSH pada umumnya menggunakan port 22 untuk dapat mengakses nya. Pada Sistem Operasi Linux, kita dapat mengakses SSH ini dengan memanfaatkan terminal dan aplikasi pendukung seperti OpenSSH. Bagi yang belum mengetahui bagaimana caranya mengakses SSH pada sistem operasi Linux dan Mac OS, silahkan baca pada artikel yang ada di link berikut:

https://support.cloudmatika.com/hc/id/

Berbeda dengan Linux & Mac yang mengandalkan terminal untuk mengakses SSH ini. Windows menggunakan third party software untuk dapat menggunakan fitur dari SSH ini. Sebagai contoh, aplikasi third party yang biasanya digunakan untuk mengakses server pada SSH yakni Putty

 

Share this
07 Nov

Digital Summit Indonesia 2017: The Future of Digital Economy

Hai Cloud Users,
Kali ini Cloudmatika mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi dalam acara Digital Summit Indonesia yang akan diselenggarakan di Jakarta hari Rabu, 8 November 2017 dengan mengusung tema: The Future of Digital Economy.
Digital Summit SEA ini akan dihadiri oleh lebih dari 200 peserta, 25 pembicara, dan akan terdapat setidaknya 25 sesi dalam satu hari.

Ted Hilbert – CEO Cloudmatika berkesempatan untuk menjadi salah satu pembicara pada Digital Summit Indonesia ini. Cloudmatika dalam The Digital Summit SEA 2017 ini akan menyampaikan tentang bagaimana mengelola bisnis dengan Cloud Services secara aman, mudah, dan dengan biaya yang efektif. Cloudmatika akan memberikan solusi lengkap untuk kebutuhan bisnis Anda yang mempermudah dan menjadikan bisnis lebih professional.

Pada kesempatan ini pula, Ted Hilbert – CEO Cloudmatika akan menyampaikan betapa pentingnya Disaster Recovery Plan untuk sebuah bisnis. Cloudmatika berharap sebuah bisnis selalu tersedia dan tetap berjalan saat terjadi bencana yang dialami pada pusat data utama.

Digital Summit SEA melihat masa depan bisnis dari sudut pandang konsumen yang cerdas secara digital yang sepenuhnya merangkul ekosistem digital yang lengkap serta memberikan pengalaman pelanggan yang banyak dan menarik, melalui wawasan bisnis yang kuat untuk bersaing dan memenuhi harapan pelanggan.
Digital Summit berfokus pada Inovasi, Teknologi dan Gangguan sebagai komponen kunci dari masa depan ekonomi digital dengan fokus mikro pada pilar utama: pemasaran, periklanan, mobile, pembayaran, kecerdasan buatan (AI), AR & VR (Mixed Reality), analisis prediktif, data besar, komputasi awan dan Internet.

Menurut Presiden RI, Bapak Ir. Joko Widodo: “Indonesia sangat potensial untuk mengembangkan ekonomi digital sehingga negara tidak boleh tertinggal dalam perkembangannya”.
Pada Digital Summit Indonesia ini, diharapkan peserta dapat menambah wawasan mengenai inovasi-inovasi yang membuat Indonesia lebih maju dalam ekonomi digital dan tidak tertinggal oleh negara-negara lainnya, seperti yang telah disampaikan Bapak Presiden Joko Widodo.

Share this
06 Nov

Apa itu Container pada Virtual Data Center?

Linux Container adalah metode virtualisasi sistem operasi-level untuk menjalankan beberapa sistem Linux terisolasi (container) pada host kontrol menggunakan kernel Linux tunggal. Berbeda dengan Virtual Machine (VM), yang menggunakan keseluruhan resource hardware yang ada pada host. Sehingga jika diibaratkan, pada Virtual Machine host langsung menjalankan double sistem operasi sekaligus.

Dengan container, sebuah program ‘diikat’ beserta library-nya, file konfigurasi, dan seluruh hal yang dibutuhkannya. Perbedaan yang sangat terlihat dibandingkan dengan virtualisasi adalah container memiliki ukuran file yang jauh lebih kecil karena tidak perlu menyiapkan sistem operasi secara penuh.

Berikut ini merupakan contoh dari tipe-tipe pada Teknologi Container:

Linux Container

Pada gambar diatas, kita melihat bahwa terdapat 2 tipe container yaitu Container berbasis Sistem Operasi dan Container berbasis Aplikasi.

 

Container berbasis Sistem Operasi

Pada Container berbasis Sistem Operasi, Container memiliki fitur yang mirip virtualisasi namun dengan peningkatan performa yang cukup signifikan karena tidak ada overhead dari sistem virtualisasi dan memanfaatkan kernel dan hardware dari induk. Teknologi ini banyak dipakai sebagai infrastruktur pada shared hosting dan virtual private server karena sifatnya yang high performance serta terisolasi antara container satu dengan yang lain.

 

Container berbasis Aplikasi

Container jenis ini, menawarkan teknologi dengan fitur-fitur yang memudahkan para pengguna, khususnya developer operation dalam membuat dan memaksimalkan suatu aplikasi yang dikelola nya. Container berbasis aplikasi ini selain memanfaatkan hardware sang induk, kernel induk, juga dapat memanfaatkan service-service lain dari container-container lain yang berjalan pada sistem yang saling berhubungan.
Dengan container jenis ini, kita dapat mendeploy banyak service yang bergantung pada service-service pendukungnya secara efisien karena tidak perlu menciptakan sistem operasi sendiri serta tidak ada duplikasi service.

Namun, walaupun dalam segi penggunaan dan performa lebih ringan dengan menggunakan Teknologi Container dibandingkan dengan Virtual Machine. Akan tetapi, setiap teknologi tersebut pasti memiliki kelebihannya masing-masing yang tentunya tidak dimiliki oleh salah satu dari teknologi tersebut.

Share this

Copyright © 2019 Cloudmatika. A Division of PT. Awan Solusi Informatika. All rights reserved.

MEMBER OF
Top